Kesejahteraan Pendidikan Anak-Anak TKI dan Imigran di Federasi Malaysia

Tenaga Kerja Indonesia atau yang biasa disebut dengan TKI berada dalam naungan BNP2TKI yang mana sekarang sudah berganti nama menjadi BNP2MI. TKI merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar untuk Indonesia. Berdasarkan data pada tahun 2019, setidaknya terdapat 3.000.000 masyarakat Indonesia yang memiliki dokumen secara resmi, yang tersebar di Semenanjung Malaysia hingga Malaysia Timur atau yang lebih akrab disebut dengan Sabah-Sarawak.

 

Secara garis besar, terdapat perbedaan pendidikan anak di Semenanjung Malaysia dan Malaysia Timur, dikarenakan pekerjaan yang dimiliki oleh para Imigran Indonesia di dua daerah tersebut pun cukup berbeda. Kebanyakan dari para imigran yang berada di Semenanjung Malaysia bekerja sebagai asisten rumah tangga, buruh pabrik dan pekerja formal. Disamping itu, kebanyakan dari para imigran yang bekerja di Sabah-Sarawak adalah pekerja pada sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit.

 

Para imigran yang bekerja di sektor perkebunan mendapatkan perhatian khusus dari para pemilik perkebunan dimana mereka bekerja. Pemilik perkebunan memberikan tanggung jawab atas pendidikan dari anak-anak imigran dengan adanya CLC atau Community Learning Center, namun begitu di sisi lain sangat disayangkan, kebanyakan anak-anak dari imigran di Sabah-Serawak enggan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, dan lebih memilih untuk bekerja. Salah satu faktor kuat akan hal tersebut adalah kurangnya sosialisasi akan pentingnya pendidikan, juga kurangnya dukungan dari orang tua mereka supaya anak-anak mereka tak enggan untuk melanjutkan pendidikan ke tahap yang lebih baik, selain itu, sebagian besar dari para orang tua lebih menginginkan anaknya bekerja dan menghasilkan uang dari pada harus menempuh pendidikan baik formal maupun non-formal.

 

Berbeda hal nya dengan para imigran di Semenanjung Malaysia, yang kebanyakan menginginkan anak-anak mereka untuk medapatkan pendidikan yang lebih baik, melalui pendidikan formal maupun tidak formal. Walau begitu keterbatasan dokumen menjadi penghalang bagi anak-anak mereka untuk mendapatkan pendidikan secara formal.

 

Atas inisiatif dari paguyuban masyarakat Indonesia yang berada di Semenanjung Malaysia khususnya di Kuala Lumpur dan atas kerja sama dengan pihak KBRI Kuala Lumpur, terbentuk sanggar pendidikan yang dinamai “Sanggar Belajar Sungai Mulia” yang sudah berjalan secara rutin, dengan target para peserta didik dapat mengkuti “Kejar Paket” yang rutin diadakan oleh SIKL atau Sekolah Indonesia Kuala Lumpur.

 

Sebelum resmi menjadi tenaga pengajar di Sanggar Belajar Sungai Mulia, para calon pengajar akan diberikan pelatihan terlebih dahulu tentang bagaimana menjadi tenaga pengajar yang baik. Sanggar belajar ini tersebar di beberapa daerah lain di Semenanjung Malaysia, juga terdapat CLC yang bekerja sama dengan sekolah Indonesia di Semenanjung Malaysia.

 

PPI Malaysia sendiri memiliki program pengabdian masyarakat pada bidang pendidikan dan sudah berjalan selama 1,5 tahun yang dinamai “PPIM Mengajar”. Program ini merupakan salah satu program yang diampu oleh Department Pendidikan PPI Malaysia, kegiatan yang rutin diadakan di sungai buloh ini mendapatkan apresiasi yang tinggi dari KBRI Kuala Lumpur, bahkan program ini juga mendapatkan dukungan finansial demi kelancaran kegiatan tersebut. Kegiatan yang diadakan satu minggu sekali ini, dengan mahasiswa Indonesia sebagai relawan sekaligus tenaga pengajarnya diharapkan oleh KBRI agar bisa terus berlangsung dan jika memungkinkan, diharap mampu berjalan setiap hari.

 

Para peserta didik pun terus bertambah di setiap minggunya dan sangat mengundang antusiasme yang tinggi dari para orang tua peserta didik. Dalam pelaksanaannya, peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan kemampuannya. Karena banyak sekali anak-anak usia sekolah menengah pertama yang belum pernah mendapatkan pendidikan baik secara formal maupun non-formal, sehingga membuat mereka diajarkan materi anak-anak sekolah dasar.

 

Namun bagaimanapun juga kegiatan ini masih memiliki beberapa kendala, di antaranya adalah keterbatasan waktu yang dimiliki oleh para tenaga pengajar yang masih merupakan mahasiswa aktif di Malaysia, walau demikian, kegiatan ini akan diusahakan agar dapat dijangkau hingga ke Malaysia Timur.

 

Di sisi lain, walaupun PPI Malaysia dan sanggar pendidikan paguyuban masyarakat di Kuala Lumpur telah menginisiasi kegiatan-kegiatan pengabdian masyarakat di atas, ternyata tetap saja banyak anak-anak dari TKI dan Imigran Indonesia yang berada di Malaysia belum dapat menjangkau pendidikan yang layak, baik secara formal maupun non-formal. Salah satu alasan terbesar mereka sehingga hal-hal demikian dapat terjadi adalah tidak memiliki dokumen resmi adalah.