PPIDK Asia Oseania Gelar Seminar Internasional Hari Santri Nasional 2020

Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2020 yang ditetapkan oleh negara jatuh pada tanggal 22 Oktober. Penetapan HSN tersebut direstui oleh Presiden Jokowi yang dituangkan dalam Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Penetapan HSN ini didasari atas sebuah sejarah keputusan besar yang disampaikan oleh Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari tentang kewajiban umat Islam dalam jihad mempertahankan tanah air dan bangsanya. Peristiwa inilah yang tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia yang berbentuk “Resolusi Jihad Fii Sabililah” dan menjadi salah satu rangkain sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme pada tanggal 22 Oktober 1945.

Dalam rangka memperingati momen sejarah tersebut, PPI Dunia Kawasan Asia Oseania (PPIDK Asiania) menggelar Seminar Internasional Virtual bersama RMI PBNU, PCINU Australia New Zealand (ANZ), PCINU Malaysia dan PCINU Taiwan bertajuk “Santri di Kancah Internasional dan Konstribusi untuk Bangsa”. Seminar internasional ini dibuka oleh Koordinator PPIDK Asiania Adi Kusmayadi. Dalam sambutannya Adi menyampaikan bahwa hari santri nasional merupakan momentum untuk mengingat kembali peran para kaum kiyai dan santri dalam berjuang mempertahankan tanah air dan bangsa Indonesia. Selain itu, momen ini menjadi penyemangat bagi kita untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri untuk dapat berdaya saing global dan juga melanjutkan semangat kontribusi peran untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Sesi inti menghadirkan 5 panelis dari berbagai negara seperti Indonesia, Australia, Malaysia, Taiwan, dan Ceko. Faruq Ibnul Haqi yang juga menjabat sebagai Wakil Koordinator PPIDK Asiania memandu langsung sesi ini hingga berjalan dengan lancer dan sukses. Narasumber pertama, Choirul Anam, SE, ME, Ak, CA menyampaikan tentang peran santri dan pelajar indonesia di luar negeri untuk berkontribusi nyata kepada masyarakat dan bangsa indonesia.  Koordinator PPI Dunia yang juga calon doctor dari Charles University, Prague, Ceko ini menambahkan bahwa pentingnya melek iptek bagi para santri dalam rangka menyongsong bonus demografi Indonesia.

Kiai Dr. Mohammad Mahbubi Ali dari the International Institute of Advanced Islamic Studies (IAIS) Malaysia menyampaikan paparannya bertemakan santri dalam ekonomi dan keuangan Syariah global. Alumni PP Sidogiri ini menekankan bahwa santri memiliki potensi dan tanggung jawab besar untuk mengambil andil dan peran di kancah ekonomi dan keuangan syarah global. Rais Syuriah PCINU Malaysia ini juga berpendapat bahwa kemampuan memadukan ilmu syariah dan keuangan, keahlian membawa teori ke dalam praktik, dan kefasihan dalam bahasa arab dan inggris adalah pra-syarat bagi siapa pun yang ingin mengisi ruang-ruang kosong di medan ini.

Tufel Najib Musyadad, MSW yang juga menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah PCINU ANZ menyampaikan bahwa santri adalah mereka yang terus belajar dan berbakti kepada masyarakat, bangsa dan negara. Mereka bukan hanya yang belajar di pesantren, melainkan siapa saja yang selalu berpegang teguh pada agama dan tuntunan para ulama nusantara. Dosen di Charles Darwin University Australia ini juga menambahkan pengertian santri yaitu kaum multi talenta dan multi profesi, namun tidak bisa dilupakan misi utama kesantrian nya, yakni selalu menjadi penjaga tradisi Islam wastahiyah dan rahmatan lil ‘alamin dimana pun berada, serta mampu menjadi intellektual publik yang siap mengabdi kepada masyarakat.

Selanjutnya Miftakhul Jannatin, S.SI., M.Si memaparkan bahwa peran santri harus selalu ditingkatkan dalam menjawab kebutuhan masyarakat seiring dengan perkembangan jaman. Sekretaris Fatayat PCI NU Taiwan ini juga menekankan tentang hukum fardhu ‘ain bagi kita untuk menebar manfaat bagi masyarakat sekitar kita, bahkan lingkungan terkecil sekalipun. Sebab pada hakikatnya keberadaan santri bukan untuk menjadi elit masyarakat, justru harus dekat dengan masyarakat baik secara kehidupan bermasyarakat maupun beragama.

Sesi terakhir disampaikan oleh Dr. Abdulloh Hamid, M.Pd yang mewakili PP RMI NU. Gus Hamid menyampaikan bahwa Hari Santri Nasional merupakan momentum istimewa tak hanya bagi santri Indonesia, tapi juga bagi santri yang berada di luar teritorial NKRI. Menurutnya, santri yang berada di luar negeri diharapkan tetap memainkan posisi srategis. Dosen UIN Sunan Ampel ini juga memaparkan tentang makin banyak santri mendapatkan kesempatan memperoleh beasiswa dengan tujuan ke luar negeri.

Seminar internasional ini ditutup dengan menyanyikan lagu Padamu Negeri yang dimaksudkan agar dimanapun berada, para santri yang berada di Luar Negeri juga tetap memberikan kontribusinya untuk kemajuan bangsa, sesuai dengan tema kegiatan saat ini.

–END–
<AK>