Kesejahteraan Pendidikan Anak-Anak TKI dan Imigran di Persemakmuran Australia

Isu untuk datang dan menetap di Australia secara ilegal sekarang memang tidak relevan, karena pada dasarnya, banyak sekali pilihan untuk tinggal di Australia tanpa melanggar hukum. Walaupun begitu, Pemerintah Australia memiliki kebijakan, bagi siapa saja yang tinggal di Australia walaupun legal, namun bukan pemilik visa Permanent Resident, tidak memiliki benefit pendidikan gratis untuk anak-anaknya. Jadi bagaimanapun juga banyak dari para TKI dan Imigran harus membayar biaya sekolah untuk anak-anak mereka.

 

Sistem pemerintahan Australia yang sangat ketat terhadap para imigrannya membuat banyak sekali imigran Indonesia yang terpaksa harus pulang kembali ke Indonesia dikarenakan tidak memiliki pekerjaan dan Permanent Resident Visa. Berbeda hal nya dengan Warga Negara Indonesia yang belum memiliki pekerjaan tetapi memiliki izin tinggal tetap atau Permanent Resident Visa, mereka mendapat Centerlink atau bantuan finansial berupa uang sebesar 3000 AUD di setiap bulannya, tetapi apabila masa berlaku visa tinggal mereka sudah habis dan mereka belum juga mendapatkan perkerjaan, maka status Permanent Resident mereka akan dicabut, dan biasanya pilihan mereka tak lain adalah kembali ke Indonesia.

 

Berdasarkan pengalaman salah satu pelajar doktoral Indonesia yang sudah tinggal di Australia selama 13 tahun, hingga memiliki anak disana, status kependudukan anak mereka adalah sebagai WNA. Maka kehidupan anak mereka sudah dijamin oleh pemerintah Australia, bahkan hingga mereka tua nanti, salah satu keuntungan yang mereka miliki adalah selama orang tua mereka masih mengurusi anak mereka yang berstatus WNA hingga umur 17 tahun, pemerintah akan memberikan dana sebesar 1000 AUD per-anak setiap bulannya. Selain itu anak juga mendapatkan pendidikan di sekolah negeri secara gratis, dan apabila anak mereka adalah anak yang memiliki kebutuhan khusus seperti autisme dan semacamnya, makan angka yang didapatkan lebih besar dari 1000 AUD.

 

 

Kesejahteraan Pendidikan Anak-Anak TKI dan Imigran di Republik India

Secara garis besar, Imigran Indonesia di India bukanlah mereka yang memiliki ekonomi menengah ke bawah, bahkan banyak di antara mereka adalah orang yang memiliki kemampuan ekonomi menengah ke atas khususnya anak-anak dari para  staf KJRI atau mereka yang orang tua nya bekerja di perusahaan India. Berbeda dengan Malaysia yang memiliki sekolah Indonesia di beberapa kota seperti “Sekolah Indonesia Kuala Lumpur” atau “Sekolah Indonesia Johor Bahru” dan yang lainnya.

 

India belum memiliki sekolah indonesia disana, sehingga anak dari para imigran Indonesia di India terpaksa bersekolah di sekolah lokal, hal ini menyebabkan banyak sekali anak-anak Imigran Indonesia di India tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik, menyikapi hal demikian, KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di India dengan rutin membuka kelas Bahasa Indonesia, yang mana hal ini sangat membantu para anak-anak imigran mampu berbahasa Indonesia dengan baik. KBRI India juga sangat memperhatikan para pelajar dan mahasiswa Indonesia di India, sehingga hubungan antara mahasiswa dan KBRI India sangat dekat terutama hubungan antara ATDIKBUD dengan para mahasiswa.

 

Sejauh ini, jarang sekali ada isu-isu yang tidak baik mengenai mahasiswa Indonesia disana. Tetapi bagaimanapun juga, persaingan antar mahasiswa sangatlah ketat, PPI India juga memiliki perhatian khusus demi menjaga hubungan baik dan silaturahmi antar mahasiswa dan para imigran Indonesia di India, dengan rutin mengadakan program silaturahmi antar para mahasiswa Indonesia yang tinggal di lokasi yang cukup jauh untuk di jangkau.

 

Akhir-akhir ini sulit bagi mahasiswa Indonesia di India untuk melaksanakan Internship atau magang, dikarenkan sedikit sekali kesempatan untuk magang di beberapa perusahaan dan NGO di India. Walau begitu, KBRI India gencar mengadakan webinar motivasi dan peningkatan kapasitas mahasiswa agar tetap produktif dan mampu beradaptasi dengan baik walau di tengah pandemi.

 

 

Kesejahteraan Pendidikan Anak-Anak TKI dan Imigran di Federasi Malaysia

Tenaga Kerja Indonesia atau yang biasa disebut dengan TKI berada dalam naungan BNP2TKI yang mana sekarang sudah berganti nama menjadi BNP2MI. TKI merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar untuk Indonesia. Berdasarkan data pada tahun 2019, setidaknya terdapat 3.000.000 masyarakat Indonesia yang memiliki dokumen secara resmi, yang tersebar di Semenanjung Malaysia hingga Malaysia Timur atau yang lebih akrab disebut dengan Sabah-Sarawak.

 

Secara garis besar, terdapat perbedaan pendidikan anak di Semenanjung Malaysia dan Malaysia Timur, dikarenakan pekerjaan yang dimiliki oleh para Imigran Indonesia di dua daerah tersebut pun cukup berbeda. Kebanyakan dari para imigran yang berada di Semenanjung Malaysia bekerja sebagai asisten rumah tangga, buruh pabrik dan pekerja formal. Disamping itu, kebanyakan dari para imigran yang bekerja di Sabah-Sarawak adalah pekerja pada sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit.

 

Para imigran yang bekerja di sektor perkebunan mendapatkan perhatian khusus dari para pemilik perkebunan dimana mereka bekerja. Pemilik perkebunan memberikan tanggung jawab atas pendidikan dari anak-anak imigran dengan adanya CLC atau Community Learning Center, namun begitu di sisi lain sangat disayangkan, kebanyakan anak-anak dari imigran di Sabah-Serawak enggan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, dan lebih memilih untuk bekerja. Salah satu faktor kuat akan hal tersebut adalah kurangnya sosialisasi akan pentingnya pendidikan, juga kurangnya dukungan dari orang tua mereka supaya anak-anak mereka tak enggan untuk melanjutkan pendidikan ke tahap yang lebih baik, selain itu, sebagian besar dari para orang tua lebih menginginkan anaknya bekerja dan menghasilkan uang dari pada harus menempuh pendidikan baik formal maupun non-formal.

 

Berbeda hal nya dengan para imigran di Semenanjung Malaysia, yang kebanyakan menginginkan anak-anak mereka untuk medapatkan pendidikan yang lebih baik, melalui pendidikan formal maupun tidak formal. Walau begitu keterbatasan dokumen menjadi penghalang bagi anak-anak mereka untuk mendapatkan pendidikan secara formal.

 

Atas inisiatif dari paguyuban masyarakat Indonesia yang berada di Semenanjung Malaysia khususnya di Kuala Lumpur dan atas kerja sama dengan pihak KBRI Kuala Lumpur, terbentuk sanggar pendidikan yang dinamai “Sanggar Belajar Sungai Mulia” yang sudah berjalan secara rutin, dengan target para peserta didik dapat mengkuti “Kejar Paket” yang rutin diadakan oleh SIKL atau Sekolah Indonesia Kuala Lumpur.

 

Sebelum resmi menjadi tenaga pengajar di Sanggar Belajar Sungai Mulia, para calon pengajar akan diberikan pelatihan terlebih dahulu tentang bagaimana menjadi tenaga pengajar yang baik. Sanggar belajar ini tersebar di beberapa daerah lain di Semenanjung Malaysia, juga terdapat CLC yang bekerja sama dengan sekolah Indonesia di Semenanjung Malaysia.

 

PPI Malaysia sendiri memiliki program pengabdian masyarakat pada bidang pendidikan dan sudah berjalan selama 1,5 tahun yang dinamai “PPIM Mengajar”. Program ini merupakan salah satu program yang diampu oleh Department Pendidikan PPI Malaysia, kegiatan yang rutin diadakan di sungai buloh ini mendapatkan apresiasi yang tinggi dari KBRI Kuala Lumpur, bahkan program ini juga mendapatkan dukungan finansial demi kelancaran kegiatan tersebut. Kegiatan yang diadakan satu minggu sekali ini, dengan mahasiswa Indonesia sebagai relawan sekaligus tenaga pengajarnya diharapkan oleh KBRI agar bisa terus berlangsung dan jika memungkinkan, diharap mampu berjalan setiap hari.

 

Para peserta didik pun terus bertambah di setiap minggunya dan sangat mengundang antusiasme yang tinggi dari para orang tua peserta didik. Dalam pelaksanaannya, peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan kemampuannya. Karena banyak sekali anak-anak usia sekolah menengah pertama yang belum pernah mendapatkan pendidikan baik secara formal maupun non-formal, sehingga membuat mereka diajarkan materi anak-anak sekolah dasar.

 

Namun bagaimanapun juga kegiatan ini masih memiliki beberapa kendala, di antaranya adalah keterbatasan waktu yang dimiliki oleh para tenaga pengajar yang masih merupakan mahasiswa aktif di Malaysia, walau demikian, kegiatan ini akan diusahakan agar dapat dijangkau hingga ke Malaysia Timur.

 

Di sisi lain, walaupun PPI Malaysia dan sanggar pendidikan paguyuban masyarakat di Kuala Lumpur telah menginisiasi kegiatan-kegiatan pengabdian masyarakat di atas, ternyata tetap saja banyak anak-anak dari TKI dan Imigran Indonesia yang berada di Malaysia belum dapat menjangkau pendidikan yang layak, baik secara formal maupun non-formal. Salah satu alasan terbesar mereka sehingga hal-hal demikian dapat terjadi adalah tidak memiliki dokumen resmi adalah.

 

 

Diskusi Internal Divisi Litbang

“Membangun bangsa dengan literasi data”

“BRI Data Hackathon 2021”, Dorong Transformasi Digital dan Literasi Data Bagi Masyarakat Luas

JAKARTA– Pandemi yang terjadi pada tahun 2020 menimbulkan percepatan dalam proses transformasi digital yang dilakukan oleh organisasi bisnis dan pemerintahan. Transformasi digital sangat erat hubungannya dengan data, semakin luasnya transformasi yang dilakukan oleh organisasi menyebabkan semakin besarnya volume data yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Dalam rangka mendorong literasi data kepada masyarakat luas, Bank BRI mengadakan kompetisi data scienceBRI Data Hackathon 2021” berhadiah total senilai Rp 450juta dan dapat diikuti oleh seluruh masyarakat Indonesia secara daring.

Dalam kompetisi ini peserta diminta untuk menyelesaikan permasalahan bisnis menggunakan metode Machine Learning. Tidak tanggung – tanggung, inovasi Machine Learning terbaik dalam kompetisi ini akan mendapat hadiah uang tunai senilai 60 Juta Rupiah.

BRI juga menyediakan hadiah hiburan lainnya bagi peserta yang tidak berhasil mencapai peringkat 1. Hadiah hiburan yang disiapkan berupa uang tunai dengan total nilai 190 juta rupiah, dan beasiswa untuk mengikuti kelas Algoritma Data Science School dengan total nilai 200 Juta Rupiah.

Indra Utoyo, Direktur Digital, Teknologi Informasi dan Operasi BRI mengungkapkan Bank BRI merupakan Bank terbesar di Indonesia yang telah melakukan transformasi digital secara luas, dan memanfaatkan data sebagai dasar pengambilan keputusan yang diambil oleh perusahaan.

Kesadaran yang tinggi akan pentingnya data-driven decision, dipadukan dengan semangat untuk terus berinovasi, dan ketulusan untuk mendukung pembangunan bangsa melalui literasi data mendorong BRI untuk mengadakan “BRI Data Hackathon 2021”.

Play Video

“Saat ini data telah menjadi sumber kekayaan baru yang berharga bagi sebuah organisasi atau perusahaan. Dengan memanfaatkan data yang akurat, organisasi atau perusahaan dapat melakukan efisiensi anggaran dan mengambil kebijakan yang menguntungkan masyarakat luas. Selain itu, dengan memanfaatkan teknik analisis yang tepat organisasi bisnis dapat meningkatkan profit, dan memberikan pelayanan yang lebih baik bagi konsumen’ ungkap Indra.

Ia menambahkan, kompetisi ini dapat diikuti dengan gratis tanpa pungutan biaya apapun, masyarakat dapat mendaftarkan diri atau membagikan informasi mengenai BRI Data Hackathon melalui website resmi yang dapat diakses di www.brihackathon.id. Pendaftaran dibuka pada tanggal 8 Desember 2020, dan akan ditutup pada tanggal 19 Februari 2021.

“Kami membuka kesempatan bagi seluruh masyarakat untuk bisa mengikuti kompetisi ini.  Semoga dapat mendorong minat masyarakat akan pentingnya ilmu data dan mendorong literasi data pada masyarakat luas” tegas Indra.

Webinar Hari Sumpah Pemuda, 31 Oktober 2020

(Yogyakarta, 4 November 2020) Dalam rangka mengenang kembali jasa-jasa para pemuda
terdahulu yang memperjuangkan kemerdekaan rakyat Indonesia, juga untuk mengingatkan
kembali peran pemuda masa kini agar tidak menyia-nyiakan perjuangan mereka, serta turut
mempersiapkan pemuda Indonesia kedepannya agar ikut andil dalam mencerdaskan kehidupan
bangsa. PPIDK Asia-Oseania menyeleggarakan Webinar Hari Sumpah Pemuda 2020 dengan
menggandeng narasumber-narasumber kredibel di bidangnya.

Webinar Hari Sumpah Pemuda yang diselenggarakan 31 Oktober 2020 lalu menghadirakan
Drs. Gatot Sulistiantoro Dewa Broto, M.B.A, Sekretaris Kementrian Pemuda dan Olahraga RI
selaku keynote speaker dengan pembahasannya mengenai “Selayang Pandang Perjalanan
Bangsa Indonesia Menuju Indonesia Emas 2045”. Kemudian dilanjutkan dengan panel sesi
pertama mengusung tema “Pemuda Sebagai Sosok Aktor Sosial Perubahan Bangsa” di panel
sesi pertama ini, turut dihadirkan Prof. Dian Masyita Ph.D, Guru Besar Universitas Padjajaran
dan Nur Agis Aulia, Sosok Muda Kompas yang juga seorang Agropreneur muda. Selanjutnya
pada panel sesi kedua, dihadirkan pula tiga sosok pemuda inspiratif Perhimpunan Pelajar
Indonesia, masing masing adalah Zhafira Aqyla seorang Youtuber dan Influencer, Yudi
A.Chandra Ketua PPI Jepang, dan M.Rajiv Syarif selaku Ketua Umum PPI Malaysia. Sesi ini
adalah sesi yang paling hits dan ditunggu tunggu oleh banyak peserta, mengenai pembahasan
tentang konten Youtube dan peran pemuda Indonesia dalam dunia digital. Tema yang diusung
di panel sesi kedua ini adalah “Pemuda Milenial : Role Model dalam Pembangunan Bangsa”

Antusiasme 65 peserta dari berbagai daerah dalam sesi tanya jawab atau QnA cukup terasa
intens, banyak pertanyaan menarik masuk dan ditanyakan kepada para narasumber.
Diantaranya adalah “Bagaimana cara mengajak teman sebaya untuk dapat berpartisipasi
mengadakan perubahan di masyarakat?”,“Apakah pemuda saat ini sudah siap menjadi
pemimpin di era industri 4.0? Apa yang perlu dipersiapkan pemuda daerah di desa yang minim
teknologi?” juga pertanyaan “Bagaimana Kemenpora memberikan respon kepada sekolah yang
ingin tetap mengajajarkan pelajaran olahraga selama masa pandemi?” Semua pertanyaan diatas, oleh para narasumber dijawab secara ringkas dan mudah dipahami. Untuk video lengkap
Webinar Hari Sumpah Pemuda 2020 dapat diakses di YouTube channel PPIDK Asia-Oseania
melalui link https://www.youtube.com/watch?v=JOOocIDuSd8

Segala informasi dan kegiatan terkait PPIDK Asia-Oseania dapat diakses melalui laman
website https://asiania.ppi.id/ juga dapat mengunjungi akun sosial media kami
@ppidkasiaoseania (Instagram); @ppiasiaoseania (Twitter) ; dan PPID Kawasan AsiaOseania (Facebook). Salam Asik. Aspirasi, Sinergi, Kontribusi!

PPIDK Asia Oseania Gelar Seminar Internasional Hari Santri Nasional 2020

Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2020 yang ditetapkan oleh negara jatuh pada tanggal 22 Oktober. Penetapan HSN tersebut direstui oleh Presiden Jokowi yang dituangkan dalam Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Penetapan HSN ini didasari atas sebuah sejarah keputusan besar yang disampaikan oleh Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari tentang kewajiban umat Islam dalam jihad mempertahankan tanah air dan bangsanya. Peristiwa inilah yang tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia yang berbentuk “Resolusi Jihad Fii Sabililah” dan menjadi salah satu rangkain sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme pada tanggal 22 Oktober 1945.

Dalam rangka memperingati momen sejarah tersebut, PPI Dunia Kawasan Asia Oseania (PPIDK Asiania) menggelar Seminar Internasional Virtual bersama RMI PBNU, PCINU Australia New Zealand (ANZ), PCINU Malaysia dan PCINU Taiwan bertajuk “Santri di Kancah Internasional dan Konstribusi untuk Bangsa”. Seminar internasional ini dibuka oleh Koordinator PPIDK Asiania Adi Kusmayadi. Dalam sambutannya Adi menyampaikan bahwa hari santri nasional merupakan momentum untuk mengingat kembali peran para kaum kiyai dan santri dalam berjuang mempertahankan tanah air dan bangsa Indonesia. Selain itu, momen ini menjadi penyemangat bagi kita untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri untuk dapat berdaya saing global dan juga melanjutkan semangat kontribusi peran untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Sesi inti menghadirkan 5 panelis dari berbagai negara seperti Indonesia, Australia, Malaysia, Taiwan, dan Ceko. Faruq Ibnul Haqi yang juga menjabat sebagai Wakil Koordinator PPIDK Asiania memandu langsung sesi ini hingga berjalan dengan lancer dan sukses. Narasumber pertama, Choirul Anam, SE, ME, Ak, CA menyampaikan tentang peran santri dan pelajar indonesia di luar negeri untuk berkontribusi nyata kepada masyarakat dan bangsa indonesia.  Koordinator PPI Dunia yang juga calon doctor dari Charles University, Prague, Ceko ini menambahkan bahwa pentingnya melek iptek bagi para santri dalam rangka menyongsong bonus demografi Indonesia.

Kiai Dr. Mohammad Mahbubi Ali dari the International Institute of Advanced Islamic Studies (IAIS) Malaysia menyampaikan paparannya bertemakan santri dalam ekonomi dan keuangan Syariah global. Alumni PP Sidogiri ini menekankan bahwa santri memiliki potensi dan tanggung jawab besar untuk mengambil andil dan peran di kancah ekonomi dan keuangan syarah global. Rais Syuriah PCINU Malaysia ini juga berpendapat bahwa kemampuan memadukan ilmu syariah dan keuangan, keahlian membawa teori ke dalam praktik, dan kefasihan dalam bahasa arab dan inggris adalah pra-syarat bagi siapa pun yang ingin mengisi ruang-ruang kosong di medan ini.

Tufel Najib Musyadad, MSW yang juga menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah PCINU ANZ menyampaikan bahwa santri adalah mereka yang terus belajar dan berbakti kepada masyarakat, bangsa dan negara. Mereka bukan hanya yang belajar di pesantren, melainkan siapa saja yang selalu berpegang teguh pada agama dan tuntunan para ulama nusantara. Dosen di Charles Darwin University Australia ini juga menambahkan pengertian santri yaitu kaum multi talenta dan multi profesi, namun tidak bisa dilupakan misi utama kesantrian nya, yakni selalu menjadi penjaga tradisi Islam wastahiyah dan rahmatan lil ‘alamin dimana pun berada, serta mampu menjadi intellektual publik yang siap mengabdi kepada masyarakat.

Selanjutnya Miftakhul Jannatin, S.SI., M.Si memaparkan bahwa peran santri harus selalu ditingkatkan dalam menjawab kebutuhan masyarakat seiring dengan perkembangan jaman. Sekretaris Fatayat PCI NU Taiwan ini juga menekankan tentang hukum fardhu ‘ain bagi kita untuk menebar manfaat bagi masyarakat sekitar kita, bahkan lingkungan terkecil sekalipun. Sebab pada hakikatnya keberadaan santri bukan untuk menjadi elit masyarakat, justru harus dekat dengan masyarakat baik secara kehidupan bermasyarakat maupun beragama.

Sesi terakhir disampaikan oleh Dr. Abdulloh Hamid, M.Pd yang mewakili PP RMI NU. Gus Hamid menyampaikan bahwa Hari Santri Nasional merupakan momentum istimewa tak hanya bagi santri Indonesia, tapi juga bagi santri yang berada di luar teritorial NKRI. Menurutnya, santri yang berada di luar negeri diharapkan tetap memainkan posisi srategis. Dosen UIN Sunan Ampel ini juga memaparkan tentang makin banyak santri mendapatkan kesempatan memperoleh beasiswa dengan tujuan ke luar negeri.

Seminar internasional ini ditutup dengan menyanyikan lagu Padamu Negeri yang dimaksudkan agar dimanapun berada, para santri yang berada di Luar Negeri juga tetap memberikan kontribusinya untuk kemajuan bangsa, sesuai dengan tema kegiatan saat ini.

–END–
<AK>

Pembentukan Kepengurusan Baru PPIDK Asia-Oseania 2020/2021

(Jakarta, 25 September 2020) Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia Kawasan Asia-Oseania telah sukses melangsungkan serangkaian kegiatan rekrutmen pengurus baru untuk periode 2020/2021. Tahapan kegiatan rekrutmen dimulai dengan registrasi dan seleksi berkas yang diselenggarakan pada tanggal 1-5 September 2020, kemudian dilanjutkan interview peserta melalui daring pada tanggal 7-8 September 2020 dan tahapan terakhir pengumuman peserta yang lolos menjadi anggota kepengurusan baru PPIDK Asia-Oseania 2020/2021 di tanggal 12 September 2020 lalu. Para pengurus baru ini nantinya akan ditempatkan di beberapa departemen yang tersedia meliputi: Kesekretariatan; Media dan Komunikasi; Pengembangan Karir, Bisnis, dan Kemitraan; Sosial Budaya; Litbang dan Pendidikan.

Dari empat belas negara anggota PPIDK Asia-Oseania, hampir seluruh anggota PPI Negara yang turut berpartisipasi dalam rekrutmen kali ini. Keberagaman latar belakang pendidikan dan budaya para anggota pengurus PPIDK Asia-Oseania diharapkan mampu menjadi wadah koordinasi, sinergi dan aspirasi antar PPI Negara, juga mampu borkontribusi lebih dalam membangun khazanah keilmuan melalui inovasi dan karya sesuai dengan motto dari kepengurusan kali ini yaitu ASIK (Aspirasi, Sinergi dan Kontribusi).

Adi Kusmayadi selaku Koordinator terpilih untuk PPIDK Asia-Oseania 2020/2021 menyatakan “Kami berharap bahwa kita bisa bekerja bersama dan bersinergi untuk membawa PPI DK Asiania lebih Asik (Aspirasi, Sinergi, Kontribusi) dan bermanfaat baik anggotanya maupun untuk bangsa dan negara”

Pengurus terpilih sudah mulai menjalankan roda organisasi terhitung sejak tanggal 13 September 2020 lalu. Nantinya seluruh program kerja periode ini berfokus membangun koordinasi yang solid, progresif, dan profesional untuk mengembangkan kapasitas SDM serta peningkatan produktivitas organisasi, juga memperkuat sinergi antara PPI Negara, Mitra PPI, Alumni, dan Pemerintah.

Segala informasi dan kegiatan terkait PPIDK Asia-Oseania dapat diakses melalui laman website https://asiania.ppi.id/ juga bisa kunjungi sosial media kami di Instagram account @ppidkasiaoseania Twitter account @ppiasiaoseania dan Facebook account PPID Kawasan Asia-Oseania. Salam Aspirasi, Sinergi, Kontribusi!(AT)

Liputan Simposium Internasional PPI Dunia 2020

Simposium Internasional Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia ke XII tahun 2020 telah selesai dilaksanakan. Acara yang berlangsung di Guangzhou, Tiongkok dari tanggal 15 – 30 Agustus ini adalah Simposium PPI Dunia Online pertama dalam sejarah mengingat pandemi global yang sedang terjadi.

Rekan rekan pelajar Indonesia di seluruh dunia, mengikuti dengan antusias seluruh rangkaian acara. Dibuka dengan sambutan dari Koordinator PPI DUNIA periode 2019/2020 Fadlan Muzakki serta penampilan spesial dari pelajar Indonesia di Tiongkok dan seluruh dunia.

Acara disusul dengan Webinar yang mendatangkan para Tokoh seperti Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Nadiem Anwar Makarim, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI Muhajir Effendy.

Acara acara selanjutnya, seperti Webinar yang dibuka untuk publik melalui media Zoom dan YouTube berjalan dengan lancar. Sidang Komisi sebagai bentuk Diskusi Pelajar Indonesia serta Kongres Internasional yang menghasilkan Koordinator Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia periode 2020/2021 juga berlangsung penuh sukacita.

Setelah berjalan kurang lebih dua minggu, acara Simposium yang mengangkat Tema Peran Generasi Muda dalam Kebangkitan Nasional Pasca Pandemi Covid-19 ini ditutup pada Minggu, 30 Agustus 2020. Dengan adanya acara ini Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia berharap dapat ikut andil dalam pembangunan manusia Indonesia. (Alfa)